Showing posts with label Business. Show all posts
Showing posts with label Business. Show all posts

Monday, January 11, 2016

Managed File Transfer (MFT) Overview & Solution

If you familiar with middleware, you will be familiar with MFT / Managed File Transfer. It is one of the middleware category. If you know FTP (File Transfer Protocol), you might be know this MFT. I have worked with this MFT for about a year. I work with several partner that provide MFT solution or product. For Indonesian Market, MFT is a right solution to help company work and collaborate with their customers and partners. So what is MFT?



Wikipedia.com:

Managed file transfer ("MFT") refers to software or a service that manages the secure transfer of data from one computer to another through a network (e.g., the Internet). MFT software is marketed to corporate enterprises as an alternative to using ad-hoc file transfer solutions, such as FTP, HTTP and others.

Typically, MFT offers a higher level of security and control than FTP. Features include reporting (e.g., notification of successful file transfers), non-repudiation, auditability, global visibility, automation of file transfer-related activities and processes, end-to-end security, and performance metrics/monitoring. ensure secure, reliable and auditable data transfer to enhance various type of business process.

Managed file transfer (MFT) is a type of software used to provide secure internal, external and ad-hoc data transfers through a network. MFT products are built using the FTP network protocol. However, because federal regulations require that MFT products meet strict regulatory compliance standards, they include mechanisms to ensure a higher level of security and help keep information private.

MFT applications offer business automation, along with reporting and non-repudiation. An MFT solution should simplify management and ensure regulatory compliance while supporting all current security standards and methodology, including SSLencryption, X.509 encryption and proxy certificates.

MFT is a category of middleware software that ensures reliable, secure and auditable file transfer to enable critical business process. 

...

My Definition: Managed File Transfer (MFT) is a middleware software that ensure secure, reliable and auditable data transfer to enhance various type of business process.

Problem we are facing nowadays related with MFT:
  1. Low service level because of many disruption to the document exchanged and data transfer, such as unstable and narrowband network 
  2. Low visibility because of lacking or minimal operational status
  3. Not meet complication related data security best practices
  4. High operational costs because too many complex manual processes, manual errors and exception drive up costs and lengthen time to value 
  5. Continued growth in the amount of data, size of files and volumes of transactions  mandates highly scalable solutions to support expansion of business that demand simplicity and rapid response 



There are many solution related with this MFT. They offer several additional features to support the operational like Web Access, Mobile, etc... Some of them offer analytics functionality like dashboard too. Basically it is just an additional for the security, reliability and audibility data transfer. Just for your information too, some of the big brands also offer collaboration with another middleware like B2B (Business 2 Business) Integration. If MFT talk about file transfer, B2B talk about real time integration, and more automation. You have to decide based on your objective you want to achieve and of course your budget. Thank you for reading.

Wednesday, December 16, 2015

Invest More For Your Future

“Do not save what is left after spending, but spend what is left after saving.” – Warren Buffett

Like the quote above, most people including me choose the wrong life choice. I always spend the money first, buy things, hang out and after all of them have been satisfied finally I put some money for saving. This become my habit since in high school. At that time, my parents always give weekly "salary". Not the real salary, but pocket money.

At the college, it was getting worst because my parents gave me monthly pocket money like regular working people got transferred every month. The only different thing was mine was transferred at the early of month, not like the regular worker. Although it was getting worst, indeed I could save more money because I had another income at the time.

When I started to work few years ago, my bad habit was not changed. Spending first, save later. Save what is left after I satisfied spend it by bought new gadget, hang out, etc... Lately I start to change my habit. I start to follow my girlfriend advice to save the money at the moment I receive the money, exactly like the quote from Warren Buffett.

I cannot tell you what are the results for now. But 1 thing for sure, I am start to spend the money left in my account carefully. I become more wise and discipline. So, the next question? What are savings for? Of course, what I mean here is not the real saving but more like what Warren Buffett do, more investment. Invest more for your future. Below is more quotes from Warren Buffet. Cheers :)




Friday, August 14, 2015

Compound Annual Growth Rate / CAGR - Overview

Bola Salju
Laju Pertumbuhan Majemuk Tahunan (Compound Annual Growth Rate), biasanya disingkat CAGR, adalah konsep bisnis dan investasi yang memperhalus pertumbuhan tahunan dari investasi atau bisnis dalam suatu periode. Konsep sederhana CAGR adalah memandang pertumbuhan tahun demi tahun yang lajunya halus, sehingga mengabaikan volatilitas atau perubahan pertumbuhan.

Suatu contoh, berikut adalah perkembangan ekuitas dua perusahaan untuk periode 2008-2012 (4 tahun):

Perusahaan A berturut-turut: 39, 32, 21, 71, 211.
Perusahaan B berturut-turut: 19, 30, 49, 59, 95
Bisa dilihat, bila memakai cara biasa, pertumbuhan ekuitas perusahaan B tentu lebih mudah dihitung dibanding A yang lebih berubah-ubah, apalagi ada penurunan selama dua tahun. Nah, kita bisa memperhalus pandangan pertumbuhan perusahaan A dengan memakai CAGR, jadi seakan-akan pertumbuhannya tidak ada gejolak.

Berikut adalah rumus CAGR:



CAGR pertumbuhan ekuitas Perusahaan A = 211 / 39 atau 5,41 dipangkat 1/4 atau 0,25, hasilnya 1,5251 dikurangi 1, sama dengan 0,5251 atau 52,51%. Dengan cara yang sama, CAGR pertumbuhan ekuitas Perusahaan B adalah 49,53%. Bisa kita lihat selisihnya sedikit sekali sementara bila melihat perkembangan dari tahun demi tahun saya akan lebih suka perusahaan B.

CAGR bukan istilah akuntansi, tapi tetap sering digunakan dalam menilai bisnis untuk membandingkan dua laju pertumbuhan yang berbeda dengan mengabaikan volatilitas. Ada beberapa kelemahan konsep CAGR ini, pertama dia bisa ditipu dengan pertumbuhan pesat di tahun terakhir saja, juga tidak bisa melihat perubahan laju yang diserta penurunan, keduanya berhubungan dengan volatilitas.

Dengan melihat perbedaan karakter pertumbuhan ekuitas dua perusahaan di atas, bila kita adalah investor berbasis pertumbuhan, mana yang kita pilih? Apakah A atau B? Berdasarkan CAGR tentu A. Tapi bila kita ingin faktor yang lebih mudah diprediksi, perusahaan B jelas lebih menarik, pertumbuhan bisnisnya bisa kita lihat halus dan naik dari tahun ke tahun. Sementara angka 52,51% CAGR perusahaan A tadi adalah angka diperhalus. Tapi investor juga harus kritis terhadap kinerja negatif A di tahun ke-2 dan ke-3, perlu ditelaah apa penyebabnya, apakah keputusan manajemen, masalah beban karena kenaikan harga komoditas, alasan lain? CAGR sedikit berguna tapi kita harus kritis terhadap hasil akhirnya karena seperti dicontohkan oleh perusahaan A, hasilnya menutupi fluktuasi pertumbuhan ekuitas yang sebenarnya. Tapi bila kita tahu alasan penurunan ekuitas perusahaan A di dua tahun tersebut tidak negatif, bisa jadi perusahaan ini adalah turn-around yang memang bagus atau calon potensial perusahaan tumbuh lebih stabil di masa mendatang.


...

Finansialku
CAGR atau compound annual growth rate adalah salah satu besaran yang digunakan untuk menentukan tingkat pertumbuhan investasi dan bisnis dari beberapa tahun. 

Contoh Bapak A berinvestasi di reksadana saham XXX sejumlah Rp 1.000.000. Pada tahun 2011 dana Pak A yang diinvestasikan direksadana XXX sudah bertumbuh menjadi Rp 1.300.000, kemudian tumbuh kembali di tahun 2012 menjadi Rp 1.400.000. Total dana yang ada di tahun 2013 adalah Rp 1.950.000 Berapa pertumbuhan investasi reksadana Bapak A selama 3 tahun?

Salah satu cara untuk menghitungnya adalah dengan menggunakan CAGR atau compound annual growth rate. Rumus untuk menghitung CAGR adalah:



Jadi solusi untuk menghitung pertumbuhan investasi reksadana Pak A adalah
(1.950.000 / 1.000.000) = 1,951,95 ^ (1/3) = 1,25 à (notasi matematika di samping dibaca dengan akar pangkat 3 dari 1,95)1,25 – 1 = 0,25 atau dalam persentase 25%.
Jadi pertumbuhan investasi reksadana XXX, Bapak A selama 3 tahun adalah 25%.

Perhitungan Excel:
Salah satu cara perhitungan dengan menggunakan Excel adalah dengan menggunakan fungsi =XIRR atau =RATE.



Rumus excel: =RATE(Nper, Pmt, PV, FV, Type)
  • Nper = periode atau berapa tahun Anda berinvestasi. Dalam kasus Pak A maka Nper diisi angka 3.
  • Pmt = pembayaran bulanan atau cicilan. Dalam kasus Pak A tidak ada investasi bulanan maka dikosongin.
  • PV = present value atau dalam kasus Pak A diisi dengan modal awal yang dikeluarkan oleh Pak A. Untuk PV jangan lupa di beri tanda minus, karena hal ini berarti ada sejumlah uang yang keluar dari dompet Kita.
  • FV = future value atau dalam kasus Pak A diisi dengan uang yang ada plus hasil investasi.
Khusus untuk kasus Pak A, maka rumus yang digunakan menjadi:

=RATE (3;0;-1000000;1950000)

= 24,93% atau dibulatkan ke atas menjadi 25%.

Kesimpulan:
Cara untuk menghitung pertumbuhan investasi dan bisnis yang telah berjalan lebih dari 1 tahun adalah dengan menghitung CAGR (compound annual growth rate). Silakan praktekan untuk menghitung hasil investasi atau bisnis Anda, Selamat mencoba.


...

Parahita
Ketika kita melakukan valuasi, salah satu inputnya adalah growth. Kita mengasumsikan bahwa dari tahun ke tahun perusahaan akan tumbuh dengan kecepatan yang konstan dalam jangka panjang. Tentu saja hal ini hampir tidak pernah terjadi. Kinerja perusahaan dipengaruhi oleh banyak faktor yang menyebabkan pertumbuhan labanya  tidak semulus seperti yang diasumsikan.

Kestabilan pertumbuhan laba akan mempengaruhi akurasi valuasi. Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan ilustrasi berikut:



Katakanlah terdapat dua perusahaan A dan B. Laba bersih kedua perusahaan tersebut selama 10 tahun terakhir terlihat pada tabel di atas. Jika hanya melihat tahun pertama dan terakhir, perusahaan tersebut tampak serupa dengan laba bersih pada tahun 2002 sebesar 1,000 dan laba bersih pada tahun 2011 sebesar 4,000. Tanpa memperhatikan bagaimana kestabilan pertumbuhan labanya selama 10 tahun terakhir, ada kemungkinan kita akan salah dalam menyimpulkan tingkat pertumbuhan labanya.

Selama 10 tahun terakhir, tingkat pertumbuhan laba per tahun yang diwakili oleh CAGR  kedua perusahaan adalah sama, yaitu sebesar 16.65%. Perbedaan yang mencolok adalah kestabilan pertumbuhannya yang saya sebut growth predictability. Perusahaan A memiliki growth predictability sebesar 98.75% sementara perusahaan B hanya 54.39%. Tanpa memperhatikan growth predictability, kita akan berasumsi bahwa pertumbuhan perusahaan adalah sebesar 16.65% per tahun.

Kesimpulan yang keliru tersebut akan berpotensi menyebabkan kita melakukan kesalahan valuasi. Mengapa begitu?

Jika kita hanya melihat data 5 tahun terakhir, perusahaan A memiliki CAGR 13.62% dan growth predictability sebesar 98.41%. Nilai tersebut tidak jauh berbeda dengan apabila kita menggunakan data selama 10 tahun terakhir.

Bagaimana dengan perusahaan B?

Selama 5 tahun terakhir, CAGR perusahaan B adalah sebesar 49.53%. Nilai ini jauh berbeda dari perhitungan kita jika menggunakan data 10 tahun. Sementara itu, growth predictability perusahaan B naik drastis menjadi 80.57%. Jika kita melakukan valuasi terhadap perusahaan B dengan hanya menggunakan data 5 tahun terakhir, kemungkinan besar kita akan memiliki kesimpulan bahwa pertumbuhan labanya adalah 49.53% dan bukan 16.65%.

Masih yakinkah kita dengan hasil valuasinya?

Secara grafis, pertumbuhan laba kedua perusahaan dari tahun ke tahun akan tampak seperti ini:



Terlihat bahwa perusahaan A sangat stabil pertumbuhan labanya. Sementara itu pertumbuhan perusahaan B terlihat sangat fluktuatif. Secara kasat mata kita bisa melihat bahwa jika starting point untuk menentukan tingkat pertumbuhan laba bersih adalah tahun 2007, maka besar kemungkinan kita akan membuat kesalahan ketika melakukan valuasi terhadap perusahaan B.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, yang bisa kita lakukan adalah mencari perusahaan yang labanya tumbuh mendekati konstan. Apakah ada perusahaan seperti itu? Ada. Silahkan cek disini untuk daftar perusahaan yang secara konstan naik terus labanya selama 10 tahun terakhir. Anda dapat menentukan sendiri, perusahaan mana yang pertumbuhan labanya ke depan akan lebih mudah diprediksi. Sebagai patokan, sebaiknya growth predictability lebih besar dari 90%.

Sunday, August 9, 2015

Tips Membuka Bisnis Kost



Bisnis rumah kost  sedang banyak dilirik oleh banyak orang. Hal ini disebabkan selain menguntungkan modal yang dikeluarkan tidak sebesar membangun rumah kontrakan tapi pendapatan yang diperoleh jauh lebih besar. Berikut adalah tips untuk Anda yang ingin memulai bisnis rumah kost.

- Lokasi
Pemilihan lokasi adalah hal yang penting untuk semua jenis usaha. Dari penentuan lokasi kita sudah bisa memprediksi siapa konsumen kita. Sama halnya dengan kost-an jika rumah kost-an Anda diperuntukkan untuk mahasiswa pilihlah lokasi rumah kost-an dekat dengan gedung universitas.

- Jaminan keamanan, kenyamanan dan kebersihan
Persaingan adalah hal yang pasti ada setiap Anda memulai usaha. Untuk bisnis rumah kost sendiri persaingan terletak pada fasilitas kamar kost yang ditawarkan. Jika banyak rumah kost lain yang sudah memiliki fasilitas yang sama dengan Anda. Hal yang Anda dapat lakukan untuk membedakan rumah kost Anda dengan yang lain adalah jaminan keamanan,  dan kebersihan yang Anda dapat tawarkan sebagai salah satu keuntungan yang didapat jika menyewa kamar kost di rumah kost Anda.

- Harga
Penentuan harga adalah hal yang sulit dilakukan karena memiliki banyak pertimbangan dalam melakukannya. Untuk bisnis rumah kost  harga  dapat ditentukan dengan mengamati siapa konsumen rumah kost Anda, jika mahasiswa tentu Anda usahakan menargetkan harga yang tak terlalu mahal. Penentuan harga juga terpengaruh oleh faktor lokasi strategis. Jika kos berada di kawasan perkantoran harga yang dapat ditarik bisa lebih besar daripada harga untuk mahasiswa karena konsumen pasti lebih banyak karyawan. Asalkan fasilitasnya lebih lengkap serta lebih baik

- Layanan tambahan
Layanan tambahan juga dapat dijadikan pertimbangan dalam mempromosikan rumah kost Anda. Seperti akses wifi 24 jam, layanan  laundry atau jasa memasak makanan. Dengan layanan tambahan itu Anda bisa mendapat penghasilan tambahan.

- Fasilitas
Fasilitas sangat penting untuk diperhatikan, karena fasilitas dapat memengaruhi  harga dan kepuasan konsumen. Contohnya, kamar AC, tentu harganya lebih mahal daripada memakai  kipas angin. Pasalnya, kamar AC akan lebih memancarkan kenyamanan.  Adanya tempat tidur, meja belajar , lemari pakaian dan kamar mandi di dalam kamar turut menambah harga sewa yang lebih mahal karena tersedia fasilitas bagi sang penyewa.

- Seleksi
Menyeleksi orang baru yang akan menyewa kamar kost Anda merupakan hal penting. Jangan sampai orang dengan latar belakang yang tidak baik menjadi salah satu penghuni kamar kost Anda (Kasi contoh orang dengan latar belakang tidak baik seperti apa supaya jelas. Misalnya, pemabuk atau pernah dipenjara dan lain-lain) . Untuk itu penyeleksian seperti menanyakan informasi dasar dari calon penyewa seperti interview ringan/halus sangat penting untuk memperoleh informasi seperti apa orang yang ingin menyewa kamar kost Anda.


...

Sebelum Anda memulai bisnis Rumah kost pastikan Anda mengetahui  risiko yang akan  Anda hadapi sebagai antisipasi dengan begitu jika halangan datang, Anda telah siap menghadapinya. (Artikel lain yang berguna : tips dan trik bisnis kostan serta pajaknya)

Sumber : Rumah123.com

Wednesday, August 5, 2015

Kumpulan Istilah Startup Teknologi - Oleh TechinAsia

Berbicara tentang startup adalah sesuatu yang sangat menarik apaagi dalam 3 tiga tahun belakangan ini. Banyak sekali startup baik diluar negeri maupun dalam negeri yang sering diperbincangkan secara "exclusive". Sebut saja mereka adalah Uber, AirBnB, GrabTaxi, Tokopedia, BukaLapak, OLX, UrbanIndo, Disdus, Lazada, Bridestory, Traveloka, Gojek dan seterusnya... Kalau saya tulis masih banyak lagi yang bisa saya tulis. Kiranya mereka mewakili beberapa industri yang ada.

Untuk yang di Indonesia sendiri beberapa lahir sebelum 2010, tapi mayoritas yang saya tulis diatas lahir setelah 2010 yang mana artinya umurnya masih < 5 tahun dan pendanaannya masih dalam tahap awal dan masih bisa sangat berkembang lagi. Selain daripada startup company itu sendiri, tentunya ada venture di belakangnya. Beberapa yang berasal dari Indonesia yang cukup terkenal adalah GEPI, Indigo Ideabox, dan MerahPutih.

Kembali ke topik artikel ini, dibawah ini adalah kumpulan istilah startup teknologi yang saya ambil dari TechinAsia Indonesia. Beberapa istilah sudah saya pahami dan beberapa juga baru saya mengerti disini. Tentunya ini akan menambah wawasan kita apalagi bagi kita yang berencana juga untuk mendirikan startup kita sendiri. Semoga bermanfaat.


Apabila Anda baru memasuki dunia startup teknologi dan sering menghadiri acara seminar, launching, atau membaca media online yang mengupas tentang startup teknologi mungkin Anda akan merasa bingung dengan sejumlah istilah asing seperti pivot, pra-series, acqui-hire, dan banyak istilah lainnya. Untuk membantu Anda memahami istilah-istilah tersebut, melalui artikel ini Tech in Asia akan memberikan penjelasan dari sejumlah istilah yang umum digunakan di dunia startup.


Investasi dan akuisisi


#Venture Capitalist: Investor yang berinvestasi pada sebuah venture capital, investasi penyertaan modal pada startup potensial.


#Venture Capitalist Utama (investor utama): merupakan venture capital yang bertanggung jawab untuk menyokong_ startup_ atau berinvestasi paling besar dalam pendanaan di tahap tertentu. Dalam kedua kasus, mereka terlibat aktif dalam perusahaan investasi. Mereka ikut dalam rapat dewan direksi sebagai direktur dan terlibat dalam portofolio sehari-hari.


#Venture Capital: merupakan perusahaan yang mendapat dan mengumpulkan pendanaan dari sejumlah konglomerat dan instisusi dengan tujuan untuk diberikan kepada perusahaan rintisan. Nantinya venture capital (VC) akan menerima imbalan sejumlah saham dari perusahaan rintisan yang mendapat pendanaan.


#Angel Investor: Seorang investor yang menggunakan dana pribadinya untuk berinvestasi pada sebuah startup dengan imbalan saham perusahaan tersebut.

#Round: adalah unit penggalangan dana. Round bisa disebut juga dengan tahap. Misalnya, round pertama disebut dengan “seed round” atau pendanaan tahap awal. Kemudian round berikutnya disebut “Seri A”, “Seri B”, “Seri C”, dan seterusnya. Round terakhir disebut sebagai “final round”.

#Seed funding: merupakan istilah bagi startup yang mendapat pendanaan tahap awal atau untuk kali pertama sebelum seri pendanaan berikutnya. Saat ini, besaran seed funding di Indonesia berkisar antara Rp500 juta hingga Rp1,5 miliar.

#Exit: memiliki dua pengertian, yakni exit yang baik dan buruk. Exit dikatakan baik apabila startup tersebut berhasil mencapai IPO atau M&A (Merge & Acquisition) dengan perusahaan lain. Sedangkan exit yang buruk adalah cara lain untuk mengatakan apabila sebuah startup gagal atau tutup karena sejumlah alasan.

#IPO (Initial Public Offering): Dalam bahasa Indonesia disebut juga penawaran publik perdana atau peluncuran ke pasar saham adalah momen saat saham sebuah perusahaan dijual kepada investor institusional yang kemudian dijual ke masyarakat umum di pasar saham untuk kali pertama.

#Acqui-hire: merupakan istilah yang dipopulerkan oleh Google pada pertengahan tahun 2000. Kondisi itu terjadi saat sebuah perusahaan besar merasa ide dari sebuah startup itu sangat buruk, tetapi memiliki tim yang berbakat. Sehingga perusahaan tersebut melakukan akuisisi untuk mendapatkan tim tersebut sebagai bonus.

Inkubator dan Akselerator


#Inkubator: adalah ruang pendukung, yang menjadi tempat berkembangnya startup. Kebanyakan inkubator menawarkan saran bagi para ahli, pelatihan serta dukungan keuangan untuk perusahaan muda, serta ruang kantor bagi perusahaan tersebut agar dapat berkembang.

#Akselerator: Program yang menerima aplikasi terbuka untuk mengikuti kelas gabungan startup (dikenal juga sebagai cohort ) yang terdiri atas sebuah tim pendiri kecil dengan ide yang dikembangkan secara eksternal. Program seperti ini menyediakan dukungan melalui sejumlah kecil modal awal, bimbingan, pelatihan, dan acara promosi dalam periode terbatas, biasanya 3–4 bulan. Startup yang lulus dari program ini akan berkesempatan mendapatkan investor saat demo day.

#Demo Day: Demo day biasanya diadakan pada tiap akhir masa inkubasi. Kegiatan ini merupakan kesempatan pertama bagi startup untuk bertemu dengan para calon investor.

#Coworking space: adalah ruang perkantoran tempat pekerja mandiri seperti entrepreneur , programmer lepas, dan desainer web saling berbagi. Co-working space akan menyediakan meja, ruang konferensi, dan koneksi internet untuk mendukung penggunanya bekerja. Tujuan utamanya bukan sekadar menyewakan ruang perkantoran, melainkan sebagai sebuah tempat komunitas yang sinergis tempat para entrepreneur penggunanya bisa mengembangkan jejaring mereka dan menghasilkan ide-ide baru.

Teknis


#API - Application Programming Interface: adalah interface dengan serangkaian fungsi atau rutinitas yang memungkinkan pengembangan untuk menyelesaikan tugas tertentu atau memungkinkan untuk berinteraksi dengan komponen software tertentu.

#UI (User Interface): atau desain antarmuka yang ditampilkan ke pengguna. Para pelaku di industri ini sering menaruh kedua akronim ini bersamaan ketika berbicara tentang fungsi dan estetika produk tertentu.

#UX (User Experience): mengacu pada pengalaman pengguna.

#Growth Hacking: merupakan istilah yang ditujukan bagi tim marketing, sales, atau asosiasi yang berhasil melakukan strategi khusus dengan melakukan “hacking” agar performa mereka meningkat drastis. Penambahan kata “hacking” ini dikarenakan mereka yang berprofesi di ranah nonteknis juga ingin disebut sebagai “hacker”.

#Pivot: merupakan istilah bagi sebuah startup yang melakukan perubahan saat ia sadar bahwa apa yang sudah dilakukan tidak berjalan. Akan tetapi perubahan yang dilakukan masih sesuai dengan ide awal mereka.

Bisnis


#Monetisasi: adalah konversi produk, atau aset, menjadi alat pembayaran yang sah. Pada dasarnya, ini adalah cara halus berbicara tentang bagaimana Anda dapat membuat sesuatu yang dapat dikomersilkan.

#KPI (Key Performance Indicator): cara mengukur seberapa efektif perusahaan Anda mencapai tujuannya. Banyak organisasi menggunakan ini untuk memastikan target terpenuhi. Hal ini sangat penting bagi perusahaan muda untuk melacak keberhasilan awal mereka di pasar.

#ROI (Return of Investment): yang tinggi memiliki arti bahwa suatu perusahaan menghasilkan uang di atas biaya investasi. Ini adalah singkatan favorit lainnya bagi para startup, digunakan untuk mengevaluasi keuntungan dibandingkan dengan modal yang diinvestasikan.


#Cost benefit analysis (CBA): atau analisis biaya manfaat adalah analisis tentang perbandingan atau selisih antara penerimaan yang diperoleh dan ongkos yang dikeluarkan dari suatu kegiatan. Jika penerimaan lebih besar daripada biaya yang dikeluarkan, kegiatan itu dianggap positif , artinya dapat dilakukan. Kalau tidak, kegiatan atau proyek tersebut tidak perlu dilaksanakan.


Sumber: TechinAsia Indonesia

Sunday, July 12, 2015

Perbedaan Badan Usaha PT dan CV

#Sumber: Ipan.web.id

Perbedaan mendasar CV dan PT sebagai berikut:

  1. PT merupakan badan hukum sedang CV bukan badan hukum.
  2. PT berbadan hukum sehingga kedudukannya sama dengan orang per orang dari sisi hukum, misal nama PT dapat digunakan untuk nama rekening bank seperti layaknya orang. PT juga dapat bertindak di muka pengadilan layaknya orang. CV tidak memiliki akses dan hak seperti klausa di atas.
  3. PT dapat memiliki harta kekayaan terpisah dari pendiri/pemiliknya.Sedang CV , kekayaan pendirianya tidak terpisahkan dari kekayaan CV. Ini penting. Misal ketika ada kebangkrutan.
  4. PT memiliki aturan jelas untuk modal minimal, yaituRp. 50juta. CV tidak terikat dengan besarnya modal minimal.
  5. PT dalam proses pendiriannya wajib menyetorkan modal dasar ke Perseroan minimal 25%, sedang CV tidak terikat.
  6. Dalam mendirikan PT komposisi setoran modal masing-masing pendiri tersebut jelas dalam anggaran dasarnya, sedang CV tidak perlu penyebutan komposisinya.
  7. Dalam PT  perlu menyebutkan klasifikasi saham, hak-hak yang melekat pada saham, nomisal saham. Dalam CV itu tidak ada.
  8. CV didirikan minimal oleh 2 orang, yang salah satunya selaku persero aktif yang mengurusi, dan sekaligus menjadi Direktur, dan persero pasif atau disebut Persero Komanditer.
  9. Persero Aktif bertanggung jawab atas tagihan/hutang pihak ketiga termasuk menjaminkan harta pribadinya.

Dalam mengikuti tender proyek pemrintah atau bantuan asing, bank dunia dll. Ada syarat tertentu berkaitan dengan nilai kontrak tender, misal nilai kontrak 10 milyar, haruslah usaha dengan klasifikasi PT yang boleh mengkuti, CV belum memenuhi syarat. Ini hanya contoh dan akan saya bahas lebih mendalam pada tulisan berikutnya. Yang terpenting anda sudah memahami sedikit perbedaan CV dan PT, mengingat perbedaan CV dan PT tidak hanya dalam bentuk perusahaan bisnis namun juga dalam perlakuan hukum.


...
...

#Sumber: Lawindo.biz

Masing-masing bentuk perusahaan atau badan usaha memiliki banyak perbedaan baik kelebihan atau kekurangan disesuaikan dengan usaha anda. Walaupun demikian ketiga bentuk badan usaha ini selalu menjadi pilihan utama yang banyak digunakan oleh pengusaha di Indonesia dengan berbagai alasan dan pertimbangan sebagai landasan untuk dapat melakukan kegiatan usaha di berbagai bidang. 

Bentuk Perusahaan:
PT
  • Bentuk Perusahaan Nomor 1 yang paling populer di Indonesia
  • Banyak digunakan untuk kegiatan usaha Kecil, Menengah atau Besar
  • PT adalah bentuk perusahaan yang berbadan hukum 

CV
  • Bentuk perusahaan Nomor 2 yang banyak digunakan oleh UKM-usaha kecil dan menengah
  • CV adalah badan usaha bukan badan hukum seperti PT

Dasar Hukum:
PT
  • Pendirian PT harus sesuai dengan Undang-Undang PT Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas 
CV
  • Belum ada Undang-Undang yang secara khusus mengatur tentang Pendirian CV 
Pendiri Perusahaan:
PT
  • Jumlah pendiri perseroan terbatas  minimal 2 (dua) orang
  • Para pendiri Perseroan adalah Warga Negara Asing
  • Warga negara asing dapat menjadi pendiri untuk Perseroan yang didirikan dalam rangka Penanaman Modal Asing (PMA)
  • Para pendiri harus mengambil bagian saham pada saat perseroan terbatas didirikan
  • Setelah PT mendapatkan status sebagai badan hukum sesuai Undang-Undang yang berlaku, maka segala resiko yang timbul menjadi tanggung jawab perusahaan dan bukan menjadi tanggung jawab pribadi para pendiri perusahaan 

CV
  • Jumlah pendiri perseroan komanditer minimal 2 (dua) orang
  • Para pendiri Perseroan adalah Warga Negara Indonesia
  • Para pendiri terdiri dari Persero aktif dan Persero Diam (komanditer)
  • Persero Aktif adalah pesero pengurus dengan jabatan sebagai Direktur yang bertanggung jawab penuh melaksanakan kegiatan usaha termasuk menanggung segala resiko harta pribadinya
  • Pesero diam (komanditer) hanya bertanggung jawab sebatas besarnya jumlah modal yang disetor ke dalam perusahaan
Nama Perusahaan:
PT
  • Pemakaian Nama PT diatur dalam pasal 16 Undang-Undang PT nomor 40 tahun 2007
  • Nama Perseroan harus didahulukan dengan frase PERSEROAN TERBATAS atau disingkat PT
  • Nama Perseroan Terbatas tidak boleh sama atau mirip dengan nama PT yang sudah ada dan berdiri di wilayah Republik
CV
  • Tidak ada Undang-undang atau peraturan yang secara khusus mengatur tentang Pemakaian Nama Perseroan Komanditer atau CV
  • Artinya; Adanya kemungkinan kesamaan atau kemiripan nama perusahaan
Modal Perusahaan:
PT
  • Berdasarkan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 modal perseroan terbatas  ditentukan sebagai berikut;
  • Modal dasar minimal Rp. 50.000.000 (lima puluh juta)
  • Ketentuan minimal modal dasar tersebut dapat ditentukan lain oleh Undang-undang atau Peraturan yang mengatur tentang pelaksanaan kegiatan usaha tersebut di Indonesia
  • Dari modal dasar tersebut minimal 25% atau sebesar Rp. 12.500.000,- harus sudah ditempatkan dan disetor oleh Para Pendiri Perseroan selaku Pemegang Saham Perseroan
  • Sumber Modal: Pemilik modal dapat bersumber dari swasta (individu, badan usaha), dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, warga negara asing, badan usaha asing atau pemerintah asing
CV
  • Didalam Akta CV tidak disebutkan besarnya Modal Dasar, Modal ditempatkan atau Modal disetor
  • Artinya; Tidak ada kepemilikan saham didalam anggaran dasar CV. Besarnya penyetoran modal ditentukan dan dicatat sendiri secara terpisah oleh para pendiri
  • Bukti penyetoran modal oleh para pendiri yang terdiri dari Pesero Aktif dan Pesero Pasif dapat dibuat perjanjian sendiri yang disepakati oleh masing-masing pihak
  • Sumber Modal : Pemilik modal adalah Swasta Didalam Akta CV tidak disebutkan besarnya Modal Dasar, Modal ditempatkan atau Modal disetor
Bidang Usaha:
PT
  • PT dapat melakukan semua kegiatan usaha sesuai dengan maksud dan tujuan sesuai jenis perseroan, seperti;
    • PT non Fasilitas meliputi kegiatan usaha: Perdagangan, Pembangunan (Kontraktor), Perindustrian, Pertambangan, Pengangkutan Darat, Pertanian, Percetakan, Perbengkelan dan Jasa
    • PT Fasilitas PMA
    • PT Fasilitas PMDN
    • PT Persero BUMN
    • PT Perbankan
    • PT Lembaga keuangan non PerbankanPT Usaha Khusus meliputi kegiatan usaha; Forwarding, Perusahaan Pers, Perfilman dan Perekaman Video, Radio Siaran Swasta, Pariwisata, Pengangkutan Udara Niaga, Perusahaan Bongkar Muat, Ekspedisi Muatan Kapal Laut, Ekspedisi Muatan Kapal Udara dan Pelayaran
CV
  • CV hanya dapat melakukan kegiatan usaha yang terbatas pada bidang; Perdagangan, Pembangunan (Kontraktor) s.d Gred 4, Perindustrian, Perbengkelan, Pertanian, Percetakan dan Jasa.
  • CV memiliki keterbatasan dalam melaksanakan kegiatan usaha, karena beberapa bidang usaha ditetapkan dalam peraturan harus berbentuk Perseroan Terbatas
Pengurus Perusahaan:
PT
  • Pengurus Perseroan Terbatas minimal 2 (dua) yang terdiri dari seorang Direksi dan seorang Komisaris, kecuali untuk Perseroan Terbuka wajib memiliki paling sedikit 2 (dua) orang anggota Direksi
  • Apabila Direksi dan Komisaris lebih dari satu orang maka salah satu bisa diangkat menjadi Direktur Utama dan Komisaris Utama
  • Pengurus dapat juga sebagai Pemegang Saham Perseroan, kecuali ditentukan lain
  • Pengurus perseroan diangkat dan diberhentikan berdasarkan RUPS
CV
  • Pengurus Perseroan Komanditer minimal 2 (dua) orang yang terdiri dari Pesero Akta dan Pesero Pasif
  • Pesero Aktif adalah orang bertanggung penuh melaksanakan kegiatan perusahaan, termasuk kerugian yang harus ditanggung oleh harta pribadinya
  • Pesero Pasif adalah orang yang bertanggung jawab sebatas pada besarnya modal yang diberikan kepada perusahaan
Proses Pendirian Perusahaan:
PT
  • Pemakaian nama PT harus mendapatkan persetujuan Menteri terlebih dahulu untuk bisa digunakan
  • Minimal didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih
  • Proses Pendirian PT harus dibuat dengan Akta Otentik yang memuat anggaran dasar perseroan dan dibuat oleh Notaris
  • Akta Pendirian PT harus mendapatkan Pengesahan Menteri Hukum & HAM RI
CV
  • Pemakaian nama CV tidak perlu mendapatkan persetujuan dari Menteri
  • Minimal didirikan oleh 2 (dua) orang atau lebih
  • Proses Pendirian CV harus dibuat dengan Akta Otentik yang memuat anggaran dasar perseroan dan dibuat oleh Notaris
  • Akta pendirian CV cukup didaftarkan ke Pengadilan Negeri setempat
Perubahan Anggaran Dasar Perusahaan:
PT
  • Setiap perubahan anggaran dasar harus berdasarkan RUPS-rapat umum pemengang saham
  • Setiap perubahan anggaran dasar wajib mendapatkan Persetujuan Menteri Hukum dan HAM RI
CV
  • Setiap perubahan tidak perlu RUPS
  • Perubahan anggaran dasar dan perubahan lainnya tidak perlu mendapatkan Persetujuan Menteri

Wednesday, July 8, 2015

Plan Do Check Act / PDCA - Overview

PDCA is an iterative four-step management method used in business for the control and continuous improvement of processes and products.



PLAN : Establish the objectives and processes necessary to deliver results in accordance with the expected output (the target or goals). 
Plan : Identifying and analyzing the problem.

DO : Implement the plan, execute the process, make the product. Collect data for charting and analysis in the following "CHECK" and "ACT" steps.
Do : Developing and testing a potential solution.

CHECK : Study the actual results (measured and collected in "DO" above) and compare against the expected results (targets or goals from the "PLAN") to ascertain any differences. Charting data can make this much easier to see trends over several PDCA cycles and in order to convert the collected data into information. Information is what you need for the next step "ACT".
Check : Measuring how effective the test solution was, and analyzing whether it could be improved in any way.



ACT : If the CHECK shows that the PLAN that was implemented in DO is an improvement to the prior standard (baseline), then that becomes the new standard (baseline) for how the organization should ACT going forward (new standards are enACTed). If the CHECK shows that the PLAN that was implemented in DO is not an improvement, then the existing standard (baseline) will remain in place. In either case, if the CHECK showed something different than expected (whether better or worse), then there is some more learning to be done... and that will suggest potential future PDCA cycles.
Act : Implementing the improved solution fully.

...

Source 1 : Wikipedia
Source 2 : Mindtools

Tuesday, July 7, 2015

SWOT Analysis Overview

Definition

A SWOT analysis (alternatively SWOT matrix) is a structured planning method used to evaluate the strengths, weaknesses, opportunities and threats involved in a project or in a business venture. (Wikipedia)

A SWOT analysis can be carried out for a product, place, industry or person.

Composition:
  • Strengths: characteristics of the business or project that give it an advantage over others.
  • Weaknesses: characteristics that place the business or project at a disadvantage relative to others.
  • Opportunities: elements that the project could exploit to its advantage.
  • Threats: elements in the environment that could cause trouble for the business or project.


Corporate Planning
As part of the development of strategies and plans to enable the organization to achieve its objectives, that organization will use a systematic/rigorous process known as corporate planning. SWOT alongside PEST/PESTLE can be used as a basis for the analysis of business and environmental factors.
  • Set objectives – defining what the organization is going to do
  • Environmental scanning – Internal appraisals of the organization's SWOT, this needs to include an assessment of the present situation as well as a portfolio of products/services and an analysis of the product/service life cycle
  • Analysis of existing strategies, this should determine relevance from the results of an internal/external appraisal. This may include gap analysis which will look at environmental factors
  • Strategic Issues defined – key factors in the development of a corporate plan which needs to be addressed by the organization
  • Develop new/revised strategies – revised analysis of strategic issues may mean the objectives need to change
  • Establish critical success factors – the achievement of objectives and strategy implementation
  • Preparation of operational, resource, projects plans for strategy implementation
  • Monitoring results – mapping against plans, taking corrective action which may mean amending objectives/strategies.
...

#Strengths
  • What advantages does your organization have?
  • What do you do better than anyone else?
  • What unique or lowest-cost resources can you draw upon that others can't?
  • What do people in your market see as your strengths?
  • What factors mean that you "get the sale"?
  • What is your organization's Unique Selling Proposition (USP)?
Consider your strengths from both an internal perspective, and from the point of view of your customers and people in your market.

Also, if you're having any difficulty identifying strengths, try writing down a list of your organization's characteristics. Some of these will hopefully be strengths!

When looking at your strengths, think about them in relation to your competitors. For example, if all of your competitors provide high quality products, then a high quality production process is not a strength in your organization's market, it's a necessity.

#Weaknesses
  • What could you improve?
  • What should you avoid?
  • What are people in your market likely to see as weaknesses?
  • What factors lose you sales?

Again, consider this from an internal and external basis: Do other people seem to perceive weaknesses that you don't see? Are your competitors doing any better than you?

It's best to be realistic now, and face any unpleasant truths as soon as possible.

#Opportunities
  • What good opportunities can you spot?
  • What interesting trends are you aware of?
Useful opportunities can come from such things as:
  • Changes in technology and markets on both a broad and narrow scale.
  • Changes in government policy related to your field.
  • Changes in social patterns, population profiles, lifestyle changes, and so on.
  • Local events.

A useful approach when looking at opportunities is to look at your strengths and ask yourself whether these open up any opportunities. Alternatively, look at your weaknesses and ask yourself whether you could open up opportunities by eliminating them.

#Threats

  • What obstacles do you face?
  • What are your competitors doing?
  • Are quality standards or specifications for your job, products or services changing?
  • Is changing technology threatening your position?
  • Do you have bad debt or cash-flow problems?
  • Could any of your weaknesses seriously threaten your business?

When looking at opportunities and threats, PEST Analysis can help to ensure that you don't overlook external factors, such as new government regulations, or technological changes in your industry.


Monday, July 6, 2015

Competitor / Competitive Analysis Overview

Competitor analysis in marketing and strategic management is an assessment of the strengths and weaknesses of current and potential competitors. (Wikipedia)

Identifying your competitors and evaluating their strategies to determine their strengths and weaknesses relative to those of your own product or service. (Entrepreneur)

A competitive analysis is a critical part of your company marketing plan. With this evaluation, you can establish what makes your product or service unique--and therefore what attributes you play up in order to attract your target market.

Evaluate your competitors by placing them in strategic groups according to how directly they compete for a share of the customer's dollar. For each competitor or strategic group, list their product or service, its profitability, growth pattern, marketing objectives and assumptions, current and past strategies, organizational and cost structure, strengths and weaknesses, and size (in sales) of the competitor's business. Answer questions such as:
  • Who are your competitors?
  • What products or services do they sell?
  • What is each competitor's market share?
  • What are their past strategies?
  • What are their current strategies?
  • What type of media are used to market their products or services?
  • How many hours per week do they purchase to advertise through the media used in this market?
  • What are each competitor's strengths and weaknesses?
  • What potential threats do your competitors pose?
  • What potential opportunities do they make available for you?
A quick and easy way to compare your product or service with similar ones on the market is to make a competition grid. Down the left side of a piece of paper, write the names of four or five products or services that compete with yours. To help you generate this list, think of what your customers would buy if they didn't buy your product or service.

Across the top of the paper, list the main features and characteristics of each product or service. Include such things as target market, price, size, method of distribution, and extent of customer service for a product. For a service, list prospective buyers, where the service is available, price, website, toll-free phone number, and other features that are relevant. A glance at the competition grid will help you see where your product fits in the overall market.

Source : Entrepreneur

Sunday, July 5, 2015

Marketing Mix Overview

The marketing mix is a business tool used in marketing and by marketers. (Wikipedia)

A planned mix of the controllable elements of a product's marketing plan commonly termed as 4Ps: product, price, place, and promotion. (Business Dictionary)



Product = A product is seen as an item that satisfies what a consumer demands. It is a tangible good or an intangible service. Tangible products are those that have an independent physical existence. 

Price = The amount a customer pays for the product.

Promotion = All of the methods of communication that a marketer may use to provide information to different parties about the product.

Place = Refers to providing the product at a place which is convenient for consumers to access.

Physical Evidence = The environment / evidence which shows that a service was performed, such as the delivery packaging for the item delivered by a delivery service, or a scar left by a surgeon. 

People = The employees that execute the service, chiefly concerning the manner and skill in which they do so.

Process = The processes and systems within the organization that affect the execution of its service, such as job queuing or query handling.

Wednesday, June 24, 2015

18 Startup Mistakes Everyone Should Know About - by Funders and Founders

If you have a list of all the things you shouldn’t do, you can turn that into a recipe for succeeding just by negating as written by Paul Graham in his essay.




Below you will find the 18 startup mistakes:
  1. Single Founder – as a single founder you have almost zero chance of getting funding from Paul Graham. Why? It’s not a coincidence, he says, that founders who succeeded did so as a team of at least two.
  2. Bad Location – you can change everything about a house but its location. Likewise, if your startup is in a bad location, you can’t change the nature of that location. It’s easier to move the startup. Where to? Silicon Valley.
  3. Marginal Niche – by choosing an obscure niche a startup may paint themselves in a corner. If you are afraid of competition, this is not the way to avoid it.
  4. Derivative Idea – there are only so many Twitters for pet owners one can come up with. The bottom line is that the Google of tomorrow will not be like Google.
  5. Obstinacy – or inability to adapt kills startups who would have survived had they not been too stubborn to see what their users were telling them.
  6. Hiring Bad Programmers – knowing a good programmer from a bad one often takes being a good one yourself, or having a trusted one on your team. Exceptional programmers are always in short supply. So the odds are stacked up against hiring good ones.
  7. Choosing the Wrong Platform – how fast you can scale will determine whether your startup lives or dies once you get traction. On the wrong platform scalability will be the bottleneck. And users often don’t wait for you to figure it out.
  8. Slowness in Launching – before you actually launch you are in the dark about whether your startup should even exist. The longer you delay the launch the more you delay getting the answer. If you are afraid to know what the answer is, you might want to ask yourself why.
  9. Launching Too Early – launch too early, though, and you may be completely unprepared to handle your growth, or worse yet to present a usable product.
  10. Having No Specific User in Mind – somewhere someone will for sure be interested in your product, you just don’t know who yet? Sounds like those people may not exist. Be sure to check.
  11. Raising Too Little Money – you get what you spend on. With too little money you may not be able to flesh out your product in to its full potential.
  12. Spending Too Much – spending too much before you grew enough to have the numbers to raise the next round, and you are out of cash, which often spells the end.
  13. Raising Too Much Money – raising too much will likely make you feel like a huge success even before you made anything useful. At the end of the day it’s users, not investors, you want to impress the most.
  14. Poor Investor Management – if the choice is between making investors happy or making your users happy, always choose the users. If the user is happy your investors will make money eventually.
  15. Sacrificing Users to (Supposed) Profit – you can always make money later. This however, cannot be said about making users happy. You need to make something they want now.
  16. Not Wanting to Get Your Hands Dirty – you can’t solve all your problems with coding. Businesses are built on relationships. Go out and meet those people.
  17. Fights Between Founders – founder conflict is too common. Founders being ambitious people are almost bound to disagree.
  18. A Half-Hearted Effort – a lack of determination to see the startup through to the end is not rare. If you feel like you have other options in life than building your startup, you will probably mentally hang on to them.
...


Points from essay by Paul Graham, commentary by Anna Vital.


Written by Mark Vital (Information Designer and Hacker)

FundersandFounders

Monday, June 22, 2015

How To Start a Startup - by Funders and Founders

Here is a literal and actionable guide on how to start up.



Live in the future. 
Most of us live in the past or the present. It is easier to analyze what already succeeded and think of ways to replicate the success. It’s thinking by analogy. It is a valid way to think, except that this isn’t the way to create a big startup. Big startups are based on ideas of two kinds – obvious and hard, like Elon Musk’s SpaceX; and non-obvious and hard, like Uber. If you don’t see the obvious and hard or the non-obvious, there is a name for it – “Schlep Blindness”. SpaceX is an obvious idea because the only other enterprise that could send people to Mars, NASA, had no plan to do so at the time SpaceX started. So it is obvious. Because it is obvious and no one else is doing it – a reasonable assumption is that it is impossible. Yet if you live in the future, it will also be obvious to you that humanity will either go to Mars (or another planet) or go extinct at some point. More likely we will find a way to leave this blue pebble. So the impossible must be possible. With UberPool, the idea that at any given point in time there are at least two people going from about the same location to about the same destination is non-obvious. It requires at least three assumptions. It is hard because you would have to gather and store mountains of data about where people actually go in a city. That kind of data analysis is only becoming available now. But Uber thought of it when they offered their first ride back in 2009. They were living in the future.

See what is missing in the world. 
You probably noticed that before Uber, taxi rides weren’t enjoyable. You probably noticed that before SpaceX people were less interested in space. But that is already the past. What is missing now? More importantly what is missing from your life now?

Write it down. 
No matter how smart you are, you will not remember all your insights. Your conversations with others, random observation, and shower thoughts that are worth following up on. Write these done or lose them. Daydreaming has value. Einstein had another name for it – thought experiment.

Make a prototype. 
Most of your thoughts, even the best ones, will never see the light of day sadly. You will forget them into oblivion even if you write them down. The only exceptions are those thoughts you prototype. Make them physical if they can be – program them, design them, do anything that makes them more than just thoughts. Most people will stop right here. So if you do this, you are already ahead of the imaginary curve.

Show the prototype to 100 people. 
Now you will need to step out of your comfort zone and seek out people who will critique your prototype. Ideally, these are both people you already know and complete strangers. Why 100? Because you need a breadth of perspective and hopefully a pattern to recognize from all the feedback.

Iterate. 
Although a few people will get it right on the first try, the odds are you will not. So prepare to redo everything from scratch. This is your “founder MBA”, except it is free.

Find a co-founder. 
When the prototype starts making sense, go find another person who will pour a decade of their life into this project because it will change the world and they probably don’t have a more meaningful thing to do in life at the moment.

Register your business. 
Split equity. Finally, an easy step. Get a lawyer who will register your company. Give your co-founder as much equity as will make them work their hardest, while you keep as much as will make you give it your all.

Look for funding and build version one. 
Unless you have enough savings to build version one, go find an investor. While you are doing that build version one. You have to keep building because there is no guarantee about when or whether you find an investor. Don’t assume that you will just because other startups are getting funded. Assume the worst, and build your product.

Launch. 
By the time there is even an iota of usefulness in your product, launch it. Extra features, better interface, faster load time and other optimizations probably won’t save it, if the core features have no use.

Follow up with users. 
Are users coming back? Find out why they are not.

Launch again. 
Launch as many times as it takes. At some point, if at least a few dozen people are coming back on their own, you probably made something valuable.

Get to 1,000 users. 
This may not seem like a lot, but the first 1,000 users will show the weaknesses of what you have built. You probably will have to recruit them manually. How manually? Take their computer and open your website for them. Whatever it takes.

Grow. 
Paul Graham encourages startups to grow at least 5% a week. If you grow that much, within 4 years you will get to 25 million users. In other words, you will be one of the largest startups.

Success – whatever that is. 
You can IPO, sell your company to another or stay private by convincing investors that there is a bigger liquidity event coming. Even now, though, you may or may not have made the world better. WebVan IPO’ed, but quickly disappeared. Think about what kind of a dent in the universe you want to leave with your startup.


...

Inspired by Paul Graham’s essay “How to Start a Startup”.

Written by Anna Vital (Information Designer and Infographic Author)
FundersandFounders